Kamis, 17 Agustus 2017

7 Pelajaran Favorit di Pondok Pesantren


Memiliki pelajaran favorit pasti membuat kita lebih bersemangat dalam belajar. Para santri di pondok pesantren ternyata juga mengidolakan mata pelajaran tertentu. Ini dia 7 pelajaran favorit para santri:

1. Fiqih

Fiqih menjadi pribadinya di kalangan para santri. Hal ini dikarenakan pelajaran Fiqih berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, jadi sangat mengasyikkan saat mempelajarinya.

2. Nahwu

Nahwu merupakan ilmu tata bahasa Arab. Saat seseorang menguasai ilmu nahwu maka dia akan lebih mudah menyusun kalimat bahasa Arab. Nahwu membahas tentang kaidah dan cara memberi harakat (baris) suatu kata dalam bahasa Arab.

3. Shorof

Shorof adalah bagian dari ilmu nahwu. Jika nahwu mempelajari kaidah bahasa Arab, shorof mempelajari pembentukan dan perubahan kata dalam bahasa Arab.

4. Bahasa Arab

Bahasa Arab menjadi kunci utama untuk semua pelanggan di pondok pesantren. Kenapa? Karena semua kitab yang dipelajari di pondok pesantren menggunakan bahasa Arab. Sudah menjadi suatu keharusan bagi setiap santri menguasai ilmu ini agar dapat belajar dengan lancar.

5. Tafsir

Ilmu ini membuat para santri memahami isi Quran lebih detail. Dalam ilmu tafsir ini akan dibahas mengapa suatu ayat atau surat Quran diturunkan. Kepada siapa ayat itu ditujukan, serta menjelaskan setiap kalimat yang ada di dalam Quran. Tafsir membuat kita memahami arti Quran secara keseluruhan dan tidak terpaku pada arti baku perkataan yang terkadang sulit untuk dimengerti.

6. Tajwid

Sulit membaca Quran dengan benar? Jawabannya adalah pelajari ilmu tajwid. Ilmu ini mempelajari bagaimana tata cara membaca Quran dengan baik dan benar.

7. Tarikh Islam

Bagi yang menyukai sejarah, tarikh Islam akan menjadi pelajaran favorit. Ilmu ini mempelajari sejarah Islam. Mulai dari masa sebelum kenabian sampai bagaimana Islam menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Nah, itulah 7 pelajaran favorit para santri di pondok pesantren. Memiliki pelajaran favorit memang menyenangkan tapi alangkah baiknya jika kita tidak melupakan pelajaran yang lain. Cobalah untuk menyukai semua pelajaran, agar semua nilai kita baik. Setuju? Apa pelajaran favorit kamu?

Sabtu, 15 Juli 2017

6 Tips agar Betah di Pondok Pesantren



Pernah berada di lingkungan pesantren merupakan nikmat yang luar biasa bagi saya. Tinggal di pesantren mengajarkan banyak hal. Meski demikian, siapa yang sangka di awal saya masuk ke pesantren saya merasa tidak betah dan selalu ingin pulang. Beruntung orang tua saya melakukan hal-hal istimewa yang membuat saya lantas bertahan dan bahkan malas pulang ke rumah ketika liburan tiba. Sudah terlanjur cinta. 

Saya ingin membagikan beberapa tips yang bisa dicoba oleh orang tua yang ingin anaknya merasa betah di pesantren.

1. Menemui pengasuh atau guru pesantren

Hal ini sangat penting dilakukan. Saat orang tua bertemu langsung dengan pengasuh atau guru, mereka dapat menjelaskan sifat dan kebiasaan anaknya, sehingga saat anak merasa bosan, pihak pesantren bisa segera menangani.

2. Menemui pengurus pesantren

Pengurus pesantren berada langsung di bawah pengawasan pengasuh dan guru. Merekalah yang nantinya akan mengawasi santri-santri yang tinggal di pesantren. Karena itu, menemui dan mengenalkan anak kepada pengurus akan sangat membantu kenyamanannya.

3. Menyarankan teman baru

Faktor paling utama yang membuat tidak betah di pesantren adalah merasa sendiri. Solusi terbaiknya tentu saja dengan mencari teman sebanyak-banyaknya. Orang tua bisa menyarankan teman baru untuk anaknya. Dalam hal ini, orang tua dapat meminta saran kepada pengurus pesantren untuk menemukan teman yang sesuai.

4. Menyarankan kegiatan ekstra

Orang tua juga bisa menyarankan kegiatan ekstra yang disukai anak. Hal ini bertujuan agar anak merasa senang karena menemukan dunia barunya. Jika anak sudah merasa senang maka dengan sendirinya dia akan betah.

5. Tidak sering mengunjungi anak

Kunjungan orang tua ke pesantren adalah hal yang paling dinantikan.  Namun, jika sering dikunjungi, anak akan sulit untuk mandiri. Oleh sebab itu, orang tua harus mengatur jadwal kunjungannya. Jika merasa ingin tahu mengenai perkembangan anak, hubungi guru atau pengurus pesantren.

6. Membawakan photo keluarga

Banyak yang menganggap bahwa membawa photo keluarga saat belajar di pesantren hanya akan membuat sesih. Bagi saya pribadi, melihat photo keluarga ketika saya rindu, membuat saya lebih semangat belajar dan mengingat kembali tujuan orang tua saya memasukan saya ke pesantren

Demikian tips yang bisa saya bagi. Semoga bermanfaat 😊




Kamis, 13 Juli 2017

8 Keistimewaan Pondok Pesantren


Apa yang pembaca pikirkan saat pertama kali mendengar kata "pesantren"? Bagi saya, pesantren adalah rumah kedua. Bagaimana tidak, saya menghabiskan 10 tahun tinggal di pesantren. Bagi beberapa orang yang belum pernah merasakan manisnya pesantren, mungkin ada yang berpikir bahwa pesantren identik dengan peraturan ketat dan memaksa. Saya tidak akan menampiknya. Bukankah peraturan dibuat agar kita merasa aman dan disiplin? Tahukah pembaca, selain peraturan yang ketat, pesantren juga memiliki banyak keistimewaan. Berikut keistimewaan pesantren yang menarik untuk disimak:

1. Lingkungan yang agamis

Lingkungan banyak mempengaruhi pembentukan karakter seseorang. Setuju? Pesantren merupakan salah satu tempat terbaik untuk membentuk karakter seseorang karena lingkungannya yang sarat dengan kebaikan.

2. Kegiatan yang agamis

Setiap pesantren memiliki kegiatan-kegiatan agama yang tentunya akan membiasakan seseorang agar selalu berperilaku sesuai dengan aturan agama. Mulai dari sholat berjama'ah, mengaji, sampai mengkaji kitab-kitab agama.

3. Pelajaran agama yang mendalam

Tidak diragukan lagi, saat ingin mempelajari ilmu agama lebih dalam maka pesantren adalah pilihannya. Di pesantren, selain mengkaji kitab agama yang mumpuni, juga ada diskusi khusus tentang ilmu agama. 

4. Persaudaraan yang kuat

Bertemu orang baru dan menjadi akrab, serasa bertemu dengan saudara jauh yang lama tidak bersua. Pembaca akan merasa memiliki banyak saudara ketika tinggal di pesantren. Hal ini dikarenakan hampir semua kegiatan dilakukan bersama sehingga menciptakan keakraban.

5. Kegiatan ekstra yang menarik

Bagi penghuni pesantren seperti saya dulu, kegiatan ekstra bagaikan obat. Dengan mengikuti kegiatan yang sesuai minat, pembaca akan merasa menemukan hiburan di tengah kegiatan pesantren yang padat.

6. Melatih kemandirian

Tinggal di pesantren berarti siap untuk hidup mandiri. Segala hal dilakukan sendiri. Mencuci baju dan piring, menyetrika baju, menyiapkan baju dan buku sekolah. Bahkan ada beberapa pesantren yang mengharuskan memasak sendiri. 

7. Melatih mental pemberani

Berada jauh dari keluarga membuat saya merasa lebih berani secara mental. Di sisi lain, pesantren juga memiliki kegiatan-kegiatan yang dapat melatih keberanian. Misalnya muhadharah dan lomba, baik di dalam maupun di luar lingkungan pesantren.

8. Belajar bahasa asing

Sebagian besar pesantren memiliki program berbahasa asing, terutama pondok modern. Bahasa asing yang biasanya diterapkan adalah bahasa arab dan bahasa inggris. Akan tetapi, beberapa pesantren menambahkan bahasa asing lainnya. 

Itulah 8 keistimewaan pesantren versi saya. Ada yang berminat untuk masuk pesantren? Yuk, ramaikan pesantren!

Senin, 03 Juli 2017

Saya dan Hobi

Apa hobi kamu?

Saat masih sekolah dan kuliah dulu, saya akan langsung menjawab dengan mantap, hobi saya adalah membaca dan menulis. Sekolah dan kampus saya menyediakan perpustakaan yang cukup lengkap, mulai dari buku pelajaran, artikel, novel, sampai buku-buku yang menunjang pelajaran. Hampir setiap hari, saya mengunjungi perpustakaan untuk sekedar membaca ataupun meminjam buku dan saya selalu menikmati setiap buku yang saya baca.

Demikian juga dengan menulis, saya tidak pernah melewatkan satu haripun untuk menulis diary, meski hanya menceritakan apa yang saya alami setiap hari, saya merasa lega dan senang setiap kali menuliskan pengalaman saya. Ketika sedang memiliki ide menulis cerpen atau novel, saya bahkan menambah waktu menulis saya. Inspirasi cerpen dan novel saya adalah pengalaman saya, curhatan teman-teman saya dan juga hayalan saya. Mungkin karena ceritanya ringan, banyak teman dan guru yang menyukai tulisan saya. Hasilnya, tulisan saya dibaca bergilir. Beruntung tulisan saya cukup rapi sehingga tidak merasa malu saat semua orang membaca hasil karya saya.

Pertanyaannya sekarang adalah, apakah menulis dan membaca masih menjadi hobi saya?

Sudah lebih dari 5 tahun saya nyaris tidak pernah menulis. Setelah kuliah, saya tinggal dan bekerja di desa saya. Tidak ada perpustakaan atau toko buku disini, namun sesekali saya masih menulis diary, meskipun tidak setiap hari. Bagaimana dengan cerpen dan novel? Nihil. Saya tidak pernah menulis lagi. Saya hanya sekedar menulis puisi dan pidato untuk anak didik saya ketika ada acara tertentu. Kadang rindu menulis tapi tangan terasa berat untuk digerakan, padahal ide sudah berhamburan di kepala.

Saya masih membaca sampai hari ini, karena profesi saya sebagai pengajar menuntut saya untuk banyak membaca. Terkadang, saya membaca cerita ringan dari media online untuk mengobati rasa rindu saya akan bacaan. 

Jika hobi diartikan sebagai hal yang disukai maka menulis dan membaca masih menjadi hobi saya. Bagaimana dengan pembaca, apa hobi pembaca?